MADURANEWS.CO, Sampang– Di penghujungan Ramdhan tahun ini, Bupati Sampang H Slamet Junaidi kembali melakukan aksi sosial menyapa warga kurang mampu. Kebetulan kali ini, kegiatan bupati yang akrab disapa Aba Idi itu menyusuri rumah-rumah kaum duafa di wilayah Kelurahan Polagan, Kecamatan/ Kabupaten Sampang.
Pintu-pintu rumah sederhana di Kelurahan Polagan diketuknya satu per satu. Di baliknya, ada wajah-wajah yang tak selalu tersorot, tetapi menyimpan cerita tentang perjuangan hidup sehari-hari.
“Assalamualaikum,” sapa Aba Idi, sembari menyerahkan paket sembako sambil berbincang singkat sebelum melanjutkan ke rumah berikutnya.
Di setiap titik, pola yang sama terulang: ketukan pintu, sapaan singkat, lalu percakapan seadanya. Kadang diselingi cerita tentang pekerjaan yang tak menentu, anak yang masih sekolah, atau kebutuhan dapur yang kian terasa berat.
“Kami memberikan bantuan sembako dari pintu ke pintu rumah warga yang membutuhkan di Kelurahan Polagan,” ujarnya.
Bagi Aba Idi, blusukan seperti ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menyebutnya sebagai cara untuk melihat langsung kondisi warga Sampang hingga tingkat terbawah.
“Kami ingin memastikan sendiri, siapa yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Di antara lorong permukiman itu, Aba Idi datang tanpa sekat. Ia tidak hanya membawa bantuan sembako, tetapi juga sapaan hangat dan waktu untuk mendengar. Didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Sampang, Selviana Slamet Junaidi, ia menyambangi rumah-rumah warga kurang mampu, dari pintu ke pintu. Bagi sebagian warga, kunjungan itu bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan tanda bahwa mereka tidak dilupakan. Seorang warga penerima bantuan, misalnya, tampak terharu saat menerima paket sembako plus uang.
Di salah satu rumah, seorang lansia tampak berulang kali mengucapkan terima kasih. Tangannya menggenggam erat paket bantuan yang baru diterima. Ia tak banyak bicara, tetapi raut wajahnya cukup menjelaskan.
Bagi Aba Idi, blusukan seperti ini bukan hal baru. Ia meyakini, kehadiran pemerintah tidak cukup hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat. Menurutnya, blusukan itu membuka ruang percakapan yang jarang terjadi dalam forum resmi. Keluhan disampaikan tanpa mikrofon, harapan diutarakan tanpa naskah. Di situ, pemerintah tak lagi hadir sebagai institusi yang jauh, melainkan sebagai sosok yang bisa diajak bicara meski hanya beberapa menit di depan pintu rumah.
“Kami juga ingin mendengar langsung keluh kesah warga di bawah,” ujarnya.
Apalagi, kata Aba Idi, bulan Ramadan menjadi latar yang memberi makna lebih pada kegiatan ini. Di tengah suasana menahan lapar dan dahaga, kepedulian sosial menjadi semacam pengingat bahwa ada yang perlu dibagi, sekecil apa pun itu.
“Tujuan kami sederhana, ingin sedikit meringankan beban masyarakat, terutama kaum duafa. Apalagi di bulan Ramadan, kita harus istiqamah mencari keberkahan dengan berbagi terhadap sesama,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, penyaluran bansos dilakukan di lima titik berbeda. Dia berharap kehadirannya secara langsung di tengah-tengah warga kurang mampu bisa menjadi penyebab mekarnya senyum sumringah mereka menjelang hari raya Idul Fitri 1447 H tahun 2026 ini. (*/lum)






